Oleh: Pdt Dr Deonal sinaga, M.Th (Kadep Koinonia HKBP)
1. Sahabat yang baik hati, Salam dari Pearaja – Tarutung dan Selamat Jumat Agung! Damai sejahtera Tuhan, kiranya memenuhi hidup saudara!Mari kita sejenak merenungkan apa yang terjadi pada hari Jumat Agung, sebagaimana kita ingat hari ini!
2. Sungguh, hari ini adalah hari yang istimewa dan bersejarah. Kita mengenang peristiwa yang menentukan arah perjalanan dunia dan sejarah peradaban kemanusiaan (human civilization). Satu peristiwa besar yang melegenda, telah memengaruhi semua aspek kehidupan: sosial, ekonomi, politik, budaya, teologi, filsafat, dan pengetahuan dari generasi ke generasi.
3. Jumat Agung – satu Frasa yang paradoksal. Hari yang kelam. Hari jumat paling kelam, menjadi hari paling dikenang. Hari yang paling menyakitkan menjadi hari yang paling baik, bahkan disebut harinya Tuhan. Hari paling kelam dan menyakitkan itu sudah menjadi peringatan dan perayaan tahunan dalam kekristenan selama lebih 2000 tahun. Mengapa?
4. Karena satu pribadi. Pribadi yang menampilkan diriNya yang terbaik di saat paling kelam dan menyakitkan. Bagaimana tidak, pada hari itu Yesus mendapatkan perlakuan paling buruk. Dia dihina, difitnah, dipukuli, disesah, dipaksa berjalan sepanjang Via Dolorosa, berjalan tertatih-tatih sambil memikul salib berat di pundakNya.
5. Betapa sakitnya perasaan Yesus saat itu. Ketika Dia melihat puteri-puteri Yerusalem menangis mengikuti Dia, namun Dia tidak bisa menghibur mereka. Betapa pilunya hati Yesus ketika Petrus dan murid yang lain harus menjauh, bahkan bersembunyi ketika Dia dihakimi dan akan dihukum mati.
6. Semasa hidupNya, orang banyak menghormati dan mengagumi Yesus. Dia mengajar dan berkhotbah dengan hikmat dna kharisma yang membuat orang takjub dan terheran-heran. Dia bisa melakukan mujizat. Dia menyembuhkan orang yang sakit: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, bahkan orang mati Dia hidupkan kembali. Yesus mampu menenangkan amukan badai dan ombak hanya dengan sepatah kata.
7. Bahkan, beberapa hari sebelum Jumat Agung, ketika Yesus memasuki Yerusalem, penduduk kota itu menyambutNya bagai seorang raja terhormat dengan daun palem dan sorak-sorai. “Di kala Yesus disambut di gerbang Yerusalem, umat bagai lautan dengan palma di tangan, gemuruh sorak dan sorai, “Kristus Raja Damai” Yerusalem, Yerusalem, Lihat;lah Rajamu! Hosanna, Terpujilah, Kristus Raja Maha Jaya.
8. Tetapi di hari Jumat di Minggu itu, hari yang paling kelam itu, Yesus sepertinya kehilangan semua semarak, wibawa dan karisma yang Dia miliki itu. Penduduk Yesusalem berbalik menentang Dia. Para imam dan ahli Taurat bersekongkol melakukan yang terburuk padaNya. Penguasa dan orang-orang terhormat bersepakat menghancurkan bahkan membunuh Dia.
9. Capital Punishment. Hukuman mati dengan cara paling sadis dan hina dijatuhkan kepada Yesus. Siapa pun dapat melakukan apa saja pun kepada Yesus. Tidak ada yang melarang, tidak ada yang menghalangi. Dari Yesusalem hingga Golgatha – Via Dolorosa – jalan salib: Yesus dipaksa memikul salibNya sendiri. Dia dipukuli, dihina, diejek. Orang-orang memperlakukan Dia dengan cara yang sangat merendahkan dan menghinakan Dia.
10. Herodes dan pasukannya menghina dan merendahkan Yesus dengan mengenakan jubah kebesaran kepadaNya. Satu bentuk penghinaan yang paling menyakitkan. Ketika kepada khalayak ramai ditawarkan untuk melepaskan Yesus atau Barabas, mereka berteriak keras, “Enyahkanlah Dia, lepaskanlah Barabas bagi kami!”
11. Mereka memaksa Yesus berjalan menuju bukit Gokgatha, tempat Dia disalibkan. Orang banyak mengikuti Dia sambil berteriak-teriak dengan kata-kata yang menyakitkan. “Orang lain Ia selamatkan, Biarlah Ia sekarang menyelamatkan dirinya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah.” “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu!”
12. Yesus Sesungguhnya tidak pantas menerima semua itu. Dia tidak pernah melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan padaNya. Namun demikian, Yesus tidak pernah sekalipun menunjukkan kebencian, kemarahan atau dendam terhadap perlakukan penguasa, pemimpin agama dan penduduk Yerusalem. Sikap dan perkataan Yesus tetap menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Allah – Sang Juruselamat dunia. Dia selalu tampil dengan sikap (mental) yang terbaik, sebagai Raja – sebagai Anak Allah.
13. Di tengan amukan dunia dan di hari penduduk bumi melampiaskan kejahatan terhadap orang tak bersalah itu, justru sikap dan kata-kata yang keluar dari mulut Yesus benar-benar menyejukkan. Dia tetap memandang mereka dengan cinta kasih. Dia tetap bersikap lemah lembut. Tidak ada sedikit pun sikap memusuhi atau membenci.
14. Itulah Jumat Agung. Dalam bahasa Inggris hari ini disebut dengan istilah _Good Friday_ atau Jumat yang baik. Jika kita renungkan, apa yang baik pada hari itu? Apakah baik menjatuhkan hukuman yang tidak pantas bagi orang yang tak bersalah? Apakah pelampiasan amarah dan dendam orang Yahudi dan penguasa Romawi kepada Yesus itu baik? Sama sekali tidak. Itulah pandangan manusia. Itulah perspektif duniawi.
15. Namun demikian, dari sudut pandang Allah – yang dapat kita lihat dan pahami hanya dengan mata iman, hari ini adalah Jumat yang baik, karena pada hari ini rancangan dan rencana besar Allah untuk menyelamatkan umat manusia dan ciptaan-Nya terjadi. Karya penyelamatan Allah terjadi melalui kesetiaan dan ketaatan Yesus menapaki jalan terjal yang telah ditentukan dari semula. Itulah hal yang sangat paradoks dalam rencana mulia Allah.
16. Kitab Ibrani melukiskannya dengan indah. Yesus yang disebut sebagai manusia sempurna dengan indra kemanusiaan yang sesungguhnya; sakit, sedih, memiliki keinginan. Dia menyampaikan permohonan dengan tulus dan keinginan kuat, bahkan dengan ratap tangis. Tetapi pada akhirnya, rencana dan keinginan Allah-lah yang terjadi.
17. Ketiga Injil sinoptis memberitakan, bahwa sebelum Yesus sampai ke tangan orang-orang jahat dunia ini, Yesus berulang kali memohon dengan hati yang pilu dalam doa kepada Bapa di taman Getsemani, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”
18. Sebagai Manusia dan sebagai Anak Allah, Yesus tunduk pada rencana dan keinginan Bapa. Dia menempatkan ego – keinginan dan kepentingan pribadi-Nya di bawah rencana besar Allah. Bahwa Allah telah memilih jalan radikal dengan mengorbankan AnakNya yang tunggal yang dikasihi-Nya. Bahwa Allah telah memberikan Anak-Nya menjadi tebusan untuk keselamatan umat manusia dan ciptaan-Nya. Bahwa tidak ada yang dapat menghalangi pekerjaan besar Allah. Yesus memilih taat pada ketentuan Sang Bapa.
19. Karena ketaatan-Nya, Yesus menjadi utusan Allah yang sempurna. Dia menjadi pokok keselamatan yang abadi dan menjadi Imam Besar. Allah telah menetapkan-Nya sebagai Imam besar yang menjadi satu-satunya perantara umat manusia dengan Sang Bapa.
20. Rasul Paulus menggambarkan kebenaran ini dalam satu hymnus yang terkenal, “Kristus Yesus, walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia…”
21. Ya, termasuk dengan gelar Imam Besar menurut peraturan Melkisedek merupakan ungkapan keberadaan Yesus yang sangat tinggi. Itu adalah konsekuensi ketaatan dan kesetiaan-Nya yang sempurna kepada Bapa.
22. Itulah yang terjadi pada hari ini – pada hari Jumat. Karena itu, sungguh benar hari ini adalah _Good Friday_ – Jumat yang baik dan agung. Karena itu, kita patut merayakannya dan kita harus merayakannya dengan rasa syukur dan kesediaan melihat perbuatan Allah dengan mata iman.
23. Dengan jalan yang demikianlah Allah melalui Yesus menghadirkan kerajaan-Nya di dunia ini. Dia membawa perubahan radikal di tengah-tengah dunia ini dan menentukan arah baru perjalanan sejarah. Yesus menjalaninya dengan ketahanan mental yang tak tertandingi pada hari paling kelam.
24. Kata-kata terkenal dari Admiral William H. Mc.Raven benar-benar nyata dalam diri Yesus. “If you want to change the world, you must be your very best in the darkest moments_ – Jika saudara ingin mengubah dunia, saudara harus menampilkan diri yang terbaik di waktu paling kelam!” Pernyataan ini dengan sempurna termanifestasi dalam peristiwa Jumat Agung dalam diri Yesus Kristus.
25. Sungguh waktu paling gelap dan kelam. Jumat Agung itu adalah hari paling kelam. Bahkan fenomena alam mulai pukul 12 siang membuktikan itu. Dunia menangis atas apa yang terjadi di hari itu. _“Eloi, Eloi, Lama Sabachtani_ – Allah-Ku, Allah-Ku, Mengapa Engkau meninggalkan Aku,” adalah tangisan dan rintihan yang seharusnya tak keluar dari mulut orang paling saleh seperti Yesus. Hari itu adalah hari terburuk dan paling kelam dalam sejarah kemanusiaan.
26. Namun demikian, Yesus telah tampil dengan kondisi dan mental prima, dan muncul sebagai pribadi terbaik yang pernah ada di muka bumi. “Ecce Homo” – Lihatlah Sang Anak Manusia! Anak manusia yang dengan sempurna menapaki jalan terjal dan sulit yang telah ditentukan demi menunaikan panggilan mulia.
27. Ini adalah kenyataan, bahwa di tengah amukan dunia dan di hari manusia duniawi melampiaskan kejahatan terhadap orang tak bersalah itu, justru sikap dan kata-kata yang keluar dari mulut Yesus benar-benar menyejukkan. Dia tetap memandang mereka dengan cinta kasih. Dia tetap bersikap lemah lembut. Tidak ada sedikit pun perkataan atau sikap yang memusuhi atau membenci mereka.
28. Kata-kata yang keluar dari mulut Yesus adalah kata-kata kehidupan yang dikenang sepanjang masa. “Ya bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Pengampunan adalah ekspresi hati Yesus paling mulia terhadap orang yang sudah berlaku buruk dan jahat kepadanya.
29. “Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya hari ini juga Engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Betapa lembutnya kata-kata Yesus yang memberi pengharapan kepada orang yang kehilangan pengharapan. Ternyata orang paling berdosa sekali pun masih mendapat tempat di hati Yesus. Dengan kata-kata Yesus ini, orang yang mendengarnya bisa berharap akan hidup yang jauh lebih indah dari hidup di dunia ini.
30. Kata-kata terakhir Yesus di salib itu sebelum menghembuskan nafas terakhir, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawa-Ku.” Yesus telah melakukan segala yang dapat Dia lakukan menunaikan panggilan Sang Bapa di dunia ini, dan sekarang Dia menyerahkan diri sepenuhnya ke tangan Sang Bapa.
31. Dia telah melakukan misi di dunia ini dengan sempurna, tanpa cacat dan cela. Dia tidak pernah jatuh ke dalam dosa, sekali pun setiap saat dicobai. Dia tidak pernah jatuh pada perangkap si Jahat, sekali pun Dia diperlakukan dengan semena-mena. Terlebih pada Jumat itu, di mana kejahatan dan amarah dunia ditimpakan ke pundak-Nya, Dia menghadapinya dengan ketenangan dan penyerahan diri kepada Sang Bapa.
32. Yesus benar-benar menjadi yang terbaik di hari paling kelam. Demikianlah Dia mengubah dunia ini. Sejak saat itu, dunia tidak sama nlagi. Dunia berubah. Manusia berubah. Bahkan orang-orang jahat berubah. Yesus menjadi Imam Besar – pokok keselamatan yang abadi.
33. Karena Yesus, kita adalah orang-orang yang berbahagia. “Tung na martua situtu ma hita.” Setiap orang yang percaya dan taat kepada Yesus adalah orang paling terberkati. Yesus telah memberikan yang paling berharga bagi kita, yaitu, penghapusan dosa, keselamatan, dan hidup yang kekal.
34. Karena Yesus, maka kasih karunia dan damai sejahtera Allah terus menerus mengalir dalam hidup kita hingga kekekalan. Kesadaran akan kebenaran ini akan menjadikan setiap murid Yesus bersyukur dan mau belajar meniru langkah Yesus (imitatio Christi). Dengan demikian, kita juga turut berperan menyebarkan kerajaan Allah, dimana kasih, kebenaran, keadilan dan kebaikan mewarnai kehidupan di dunia ini!
















Discussion about this post