Topik : Yesus Kristus adalah Tuhan
Oleh : C.Pdt. Andreas Kristofel Simamora, S.Fil.
~~~~~~~~~~~~~
Syalom, Bapak/Ibu dan Saudara yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan. Firman Tuhan yang menjadi perenungan bagi kita pada Minggu ini tertulis di dalam Kitab Filipi 2:5-11 demikian bunyinya:
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,
yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Bapak/Ibu dan Saudara, pernahkah kita memahami orang lain ? atau bahkan justru sebaliknya kita saja yang harus dipahami orang lain. Bapak/Ibu dan Saudara sejatinya kita punya pikiran dan perasaan, salah satunya bagian dari pertanyaan tadi masuk di dalam kategori tersebut. Sebab ada tertulis Roma 12:16 : Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!
Kita dituntut untuk menjadi orang yang bersikap sederhana dalam hidup ini, prinsipnya kalau kita ingin dipahami tentunya kita harus mampu untuk memahami. Dasar iman Kristiani sangat melekat dalam kehidupan kita sehingga dapat kita wujudnyatakan pengabdian kita kepada Tuhan harus kekal sampai selama-lamanya. Khotbah ini mengajak kita untuk memiliki pikiran dan sikap seperti Kristus. Yesus, walaupun adalah Allah, tidak mempertahankan hak-Nya, tetapi rela merendahkan diri menjadi manusia, bahkan taat sampai mati di kayu salib.
Kerendahan hati Kristus bukan kelemahan, melainkan kekuatan kasih yang sejati. Ia mengajar kita untuk tidak hidup dalam kesombongan, tetapi dalam kerelaan melayani dan mengutamakan orang lain.
Karena ketaatan-Nya, Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan nama di atas segala nama. Ini menjadi pengingat bahwa Tuhan menghargai kerendahan hati dan ketaatan kita. Amin
















Discussion about this post