Topik : Dunia dan segalanya adalah milik Tuhan
Oleh : C.Pdt. Andreas Kristofel Simamora, S.Fil.
Syalom, Bapak/Ibu dan Saudara yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan… Firman Tuhan yang menyapa kita pada Minggu ini tertulis di dalam kitab Mazmur 50:7-15 demikian bunyinya:
“Dengarlah, hai umat-Ku, Aku hendak berfirman, hai Israel, Aku hendak bersaksi terhadap kamu: Akulah Allah, Allahmu!
Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?
Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,
sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung.
Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.
Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya.
Daging lembu jantankah Aku makan, atau darah kambing jantankah Aku minum?
Persembahkanlah syukur sebagai korban kepada Allah dan bayarlah nazarmu kepada Yang Mahatinggi!
Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” Sela
Bapak/Ibu dan Saudara, pernahkah kita memberi atau bahkan membantu orang lain ? Kalau pernah coba kita ingat sejenak, seberapa tulus kita melakukannya !
Ternyata dalam keinginan memberi ada juga hal yang harus dijaga yakni sifat ketulusan. Dan dari sinilah kita akan belajar mengingatkan kita sebagai umat Israel bahwa Allah tidak membutuhkan persembahan mereka karena segala sesuatu di dunia adalah milik-Nya. Tuhan menegur umat yang rajin beribadah secara lahiriah, tetapi kehilangan hati yang tulus di hadapan-Nya.
Secara teologis, bagian ini menegaskan kedaulatan Allah. Tuhan bukanlah Allah yang bergantung pada manusia.
Ia adalah Pencipta dan Pemilik seluruh ciptaan. Karena itu, nilai ibadah bukan terletak pada banyaknya persembahan, melainkan pada hati yang bersyukur dan taat.
Allah menghendaki tiga hal dari umat-Nya:
Persembahan syukur (ay. 14)
Ibadah yang sejati lahir dari hati yang mengakui kasih karunia Tuhan.
Kesetiaan kepada janji dan komitmen (ay. 14)
Orang percaya dipanggil untuk hidup konsisten dengan iman yang diakui.
Ketergantungan kepada Allah dalam kesesakan (ay. 15)
Tuhan mengundang umat-Nya untuk berseru kepada-Nya, dan Ia berjanji akan menolong serta memuliakan nama-Nya melalui pertolongan itu.
Di tengah zaman yang sering menilai iman dari penampilan luar, Mazmur ini mengajak kita kembali kepada inti ibadah: hubungan yang hidup dengan Allah melalui syukur, ketaatan, dan kepercayaan penuh kepada-Nya.
Refleksi :
Tuhan tidak mencari persembahan yang besar, tetapi hati yang sungguh-sungguh. Ibadah yang berkenan kepada-Nya adalah hidup yang dipenuhi ucapan syukur, setia kepada firman-Nya, dan selalu bersandar kepada-Nya dalam segala keadaan. Amin
















Discussion about this post