Misericordias Domini
Topik : Bergembira di dalam Tuhan
Ev : Habakuk 3 : 10 – 19
Oleh : C.Pdt. Andreas Simamora (LPP 1 HKBP Sei Berombang)
Syalom, Bapak/Ibu dan Saudara yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan yang menjadi perenungan bagi kita tertulis di dalam kitab Habakuk 3 : 10-19 demikian bunyinya: melihat Engkau, gunung-gunung gemetar, air bah menderu lalu, samudera raya memperdengarkan suaranya dan mengangkat tangannya.
Matahari, bulan berhenti di tempat kediamannya, karena cahaya anak-anak panah-Mu yang melayang laju, karena kilauan tombak-Mu yang berkilat.
Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa.
Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela
Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala laskarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas secara tersembunyi.
Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih.
Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).
Bapak/Ibu dan Saudara apakah kita pernah kecewa ? mungkin saja kita kecewa pada teman, keluarga atau bahkan diri kita sendiri. Pengalaman itu wajar adanya karena kita ada makhluk hidup yang diciptakan. Nabi Habakuk menggambarkan kedahsyatan kuasa Tuhan atas alam dan sejarah. Gunung-gunung gemetar, samudera bergelora semuanya menunjukkan bahwa Tuhan adalah Allah yang berdaulat, yang bertindak untuk menyelamatkan umat-Nya. Ini mengingatkan kita bahwa di balik kekacauan dunia, Tuhan tetap bekerja.
Namun yang paling kuat justru ada di ayat 17–18. Habakuk berkata: sekalipun pohon ara tidak berbunga, ladang tidak menghasilkan makanan, dan ternak lenyap dengan kata lain, saat ekonomi hancur dan masa depan tampak gelap ia tetap memilih bersukacita di dalam Tuhan.
Ini adalah iman yang dewasa. Iman yang tidak bergantung pada situasi, tetapi pada siapa Tuhan itu. Sukacita sejati bukan berasal dari berkat, tetapi dari hubungan dengan Allah.
Ayat 19 menutup dengan keyakinan: Tuhan memberi kekuatan seperti kaki rusa yang mampu berjalan di tempat tinggi. Artinya, Tuhan bukan hanya mengubah keadaan, tetapi memampukan kita melewati keadaan itu. Bapak/Ibu dan saudara bahkan di saat hidup terasa “kering”, tetaplah percaya bahwa Tuhan bekerja.
Jangan menggantungkan sukacita pada keadaan, tetapi pada Tuhan.
Percayalah, Tuhan akan memberi kekuatan untuk melangkah, bahkan di tempat yang sulit.
Apa yang boleh kita petik ? Iman sejati bukan berkata “aku bersukacita karena semuanya baik,” tetapi “aku tetap bersukacita karena Tuhan itu baik.” ingatlah selalu bahwa hati yang gembira adalah obat. Selamat menjalani kehidupan, Tuhan memberkati kita Amin














Discussion about this post