Evangelium : Markus 9: 2-9
Pengkhotbah : Pdt. Dr. Deonal Sinaga (Ka.Dept. Koinonia HKBP)
Topik : Yesus Dimuliakan Di Atas Gunung
Sahabat yg baik hati, selamat Hari Minggu! Kiranya sukacita dan damai sejahtera memenuhi kehidupan kita! Firman Tuhan pada Minggu Estomihi hari ini (Lukas 9 2836) adalah berita sukacita bagi setiap orang percaya yang mau setia mengikut Yesus.
. “I have been to the mountain top – saya sudah pernah di puncak gunung” adalah pidato terkenal dari Pdt. Dr. Martin Luther King, Jr. yang disampaikan di Memphis, Tennesee pada tanggal 3 April 1968. Dia mengatakan, “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Ke depan kita menghadapi hari-hari sulit. Namun bagi saya itu tidak masalah, karena saya sudah berada di puncak gunung…
“Dulu, saya ingin umur yang panjang, tetapi saya tidak peduli itu lagi. Saya hanya ingin melakukan kehendak Allah. Dia telah mengizinkan saya sampai di puncak gunung. Dan dari sana saya telah memandang tanah perjanjian. Mungkin saya tidak sampai di sana bersama-sama dengan saudara sekalian. Tetapi saya ingin saudara tahu, bahwa kita sebagai bangsa, akan sampai di tanah perjanjian itu.”
Pidato ini sangat menggetarkan, menggugah dan membulatkan tekad dan perjuangan masyarakat Amerika Serikat dari tokoh yang menjadi legenda dunia, untuk menghapuskan segregasi dan diskriminasi ras. Hanya dalam hitungan jam setelah pidato terkenal ini, James Earl Ray menembak mati Martin Luther King, Jr. Sekali pun dia mati terbunuh, tetapi dia telah meninggalkan “legacy” perjuangan dan tekad untuk mewujudkan bangsa dan masyarakat yang adil, damai dan sejahtera, bebas dari segregasi dan ras diskriminasi.
Berada di puncak gunung adalah juga bagian dari pengalaman empirik Yesus semasa hidupNya di dunia ini. Itulah yang terkenal dengan cerita “transfigurasi Yesus.” Tubuh Yesus tampak berubah dan dimuliakan di gunung. Wajahnya bercahaya dan dipenuhi kemuliaan sorgawi. Dia bertemu dan bercakap-cakap dengan Musa dan Elia. Mereka yang bertemu dengan Yesus adalah tokoh besar dan hamba Tuhan yang menjadi bagian sejarah keselamatan Allah (Heilsgeschichte)di Perjanjian Lama.
. Injil Markus menceritakannya. Injil Matius menuliskannya. Dan, Injil Lukas sebagaimana Firman Tuhan hari ini juga mengisahkan peristiwa transfigurasi Yesus. Hal ini berarti bahwa kisah ini sangat penting dalam berita keselamatan dan misi kerajaan Allah di dunia ini. Jika ketiga Injil Sinoptik melihat ini sebagai kisah yang menentukan, maka orang Kristen masa kita juga perlu merenungkan makna terdalam dari peristiwa di gunung ini.
Ketiga Injil itu menuliskan bahwa transfigurasi Kristus ini terjadi di konteks misi Yesus di Yerusalem. Sekalipun Injil Matius dan Markus tidak menceritakan isi percakapan ketiga tokoh sentral (Yesus, Musa dan Elia) namun Injil Lukas secara eksplisit menceritakan bahwa mereka berbicara tentang tujuan kepergianNya yang akan digenapiNya di Yerusalem (9: 31). Tidak lama lagi Yesus akan memasuki Yerusalem, dimana Anak Manusia akan melalui tahapan-tahapan penting menuju puncak misi dan pelayanananNya di dunia ini, yakni salib di Golgatha. Dia akan melalui Via dolorosa.
Sebelumnya, Yesus telah mengingatkan para murid bahwa Dia akan memasuki Yerusalem. Dia mengatakan, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.”
Seperti mimpi di siang bolong, berita yang memecah telinga dan menimbulkan goncangan bagi para murid. Bahkan Petrus, salah seorang murid yang paling dekat kepada Yesus menarik Dia dan mengingatkan bahwa itu sekali-kali tidak akan terjadi. Artinya, bahwa Petrus dan murid yang lain tidak akan membiarkan itu terjadi. Satu kenyataan yang menunjukkan bahwa Petrus dan para murid masih gagal paham akan keberadaan Yesus dan akan misi-Nya di dunia ini.
Pada kesempatan itu juga, Yesus memberikan pengajaran berharga bagi murid-murid-Nya dan bagi setiap pengikut-Nya sepanjang jaman, “…setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Markus 8:34). Yesus menegaskan bahwa hal kerajaan Allah dan misi Yesus di dunia ini, bukanlah seperti yang dipikirkan oleh manusia, melainkan seperti yang Tuhan Allah tetapkan sejak semula.
Peristiwa “Transfiguari Kristus” di gunung adalah bagian integral perjalanan realisasi misi Allah di dunia ini. Itu bukanlah sekedar pertunjukan kehebatan, kekuasaan dan kemuliaan yang Tuhan Allah miliki. Namun Petrus dan para murid yang bersama-sama dengan dia yakni Yakobus dan Yohanes masih tetap tidak memahaminya.
Setelah menyaksikan apa yang terjadi, Petrus mengajukan usulan kepada Yesus, “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Seketika itu juga datang awan menutupi mereka dan dari awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.”
Kata-kata Tuhan yang singkat, padat dan menentukan. Satu pelajaran yang sangat berharga yang harus dipegang oleh Petrus dan para murid serta umat manusia sepanjang masa. Siapakah Yesus itu sebenarnya, bukan seperti yang dikatakan oleh orang Farisi, tua-tua dan para ahli Taurat. Yesus bukanlah seperti yang ada dalam bayangan Petrus dan murid yang lain. Dan bukan seperti yang mereka inginkan.
Petrus menginginkan Yesus yang nampak dalam transfigurasi itu, yang wajahnya bercahaya dan penuh kemuliaan. Para murid menginginkan Yesus sebagai raja yang duduk di takhta kerajaan seperti Raja Daud, dan mereka menjadi pejabat-pejabat tinggi di dekatNya. Penduduk Yerusalem menginginkan pemimpin yang akan membawa mereka bebas dari kekuasaan Romawi dan menjadi bangsa merdeka yang jaya. Semua mereka salah kaprah.
Suara dari awan itu menegaskan bahwa Dia adalah Anak Allah dan bahwa mereka harus mendengarkan Dia. Dia telah mengajarkan kepada mereka tentang kebenaran Allah dan masih akan menyatakan kebenaran. Karena itu mereka harus dengan sungguh-sungguh mendengarkan Dia dan menghidupi perkataanNya.
. Barangsiapa mendengarkan Yesus dan percaya pada perkataanNya, maka dia akan hidup. Sesungguhnya setiap kata yang Yesus ucapkan adalah kebenaran. Setiap langkah dan pekerjaan yang Yesus lakukan adalah realisasi Firman Allah. Setiap tahapan yang Yesus lalui adalah bagian integral dari Heilsgeschichte (Sejarah Keselamatan Allah). Karena itu, “Dengarkanlah Dia!”
Petrus, para murid dan umat Tuhan sepanjang masa harus mendengarkan Yesus. Apa yang Yesus ajarkan, khotbahkan, layankan dan hidupi adalah kebenaran yang menuntun pada kehidupan sebagaimana yang Tuhan Allah maksudkan. Membaca, merenungkan dan menghidupi pengajaran, khotbah dan segala yang Tuhan Yesus lalui itu sangat berharga. Itu akan menuntun kita pada pemahaman yang benar akan Yesus dan kerajaan Allah.
Dengan demikian, kita akan mengenal diri kita dan arti keberadaan kita di dunia ini sebagai umat pilihan. Dengan mendengar dan menghidupi Firman Tuhan, kita bisa sampai pada pengenalan diri yang sesungguhnya. Tuhan memberikan kesempatan kepada kita sampai di puncak gunung untuk melihat kebesaran dan kemuliaan Allah. Pada waktu yang sama kita memahami bahwa puncak gunung bukanlah tujuan. Tujuan yang lebih penting adalah melakukan kehendak Allah.
Sebagaimana Yesus Kristus tunjukkan, tujuan utamaNya adalah melakukan kehendak Allah Bapa. “Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripadaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Yesus ingin melakukan kehendak Allah Bapa.
Tuhan menghendaki kita melakukan kehendak Bapa. Tuhan tidak menginginkan Petrus dan muridNya yang lain tetap tinggal di gunung yang menyenangkan itu. Mereka harus turun ke lembah dan melayani umat Tuhan. Di bawah sana masih banyak pekerjaan yang akan mereka lakukan. Dan yang paling utama, mereka masih harus memasuki Yerusalem, dimana Yesus menjalani puncak misi dan pelayanan-Nya di dunia ini.
Saudaraku, pada Minggu Estomihi (Engkaulah gunung batu, tempat perlindunganku) kita diingatkan bahwa Yesus Kristus yang dimuliakan di atas gunung melalui peristiwa transfigurasi, adalah Anak Allah yang harus kita dengarkan. Dialah jalan, kebenaran dan hidup. Jika kita mendengarkan Dia dan hidup sesuai pengajaranNya, serta setia pada panggilanNya, maka kita akan beroleh kehidupan dan anugerah ajaib yang dari Tuhan!
Dear friends, I wish you a happy and blessed Sunday! God has revealed Himself through and in His Son Jesus Christ. Therefore, be happy and smile! Praise be to God!
















Discussion about this post