Oleh : C.Pdt. Andreas Kristofel Simamora, S.Fil. (LPP 1 HKBP Sei Berombang)
> Lukas 1:67-79. Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya: “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.
Jemaat yang dikasihi dan diberkati oleh Tuhan. Nyanyian Zakharia (Benedictus) bukan sekedar pujian pribadi seorang ayah atas kelahiran anaknya. Secara teologis, ini adalah proklamasi keselamatan, dan secara filsafat, ini adalah pernyataan makna sejarah manusia. Allah tidak diam, Ia masuk ke dalam sejarah untuk membebaskan, menerangi, dan mengarahkan hidup manusia menuju damai sejahtera sejati.
“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya.” (ay. 68) sangat cocok dalam realitas kehidupan saat ini, bahwa dasar pemujian akan membawa kita kepada kebaikan.
Secara filsafat sejarah, Lukas menolak pandangan bahwa sejarah bergerak secara acak atau ditentukan oleh nasib. Sejarah memiliki arah (teleologis) menuju penggenapan kehendak Allah. Hidup manusia bukan tanpa makna; ia berada dalam narasi ilahi.
Keselamatan dalam Injil Lukas bersifat menyeluruh: rohani, sosial, dan eksistensial. Musuh bukan hanya kuasa politik, tetapi dosa, ketakutan, dan keterasingan dari Allah.
Khotbah ini mengajak jemaat menyadari: kita bukan hidup dalam kebetulan, tetapi dalam rencana Allah yang penuh kasih dan kesetiaan.
“Allah yang setia dalam sejarah, adalah Allah yang setia juga dalam hidup kita hari ini.”
AMIN
















Discussion about this post