Topik : Menjadi Saksi Allah Tritunggal
Oleh : C.Pdt. Andreas Kristofel Simamora, S.Fil.
Syalom, Bapak/Ibu dan Saudara yang terkasih di dalam nama Tuhan… khotbah Minggu ini tertulis di dalam Kitab Injil Matius 28:16-20 demikian bunyinya:
Ayat 16 : Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.
Ayat 17 : Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.
Ayat 18 : Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Ayat 19 : Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,
Ayat 20 : dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.
Bapak/Ibu dan Saudara nats ini sangat sering diperdengarkan ketika dalam perayaan/penahbisan seorang yang melayani di tengah-tengah umat-Nya. Gereja akan berjalan dengan baik jika hal ini terlaksana, dan lebih sering dikenal sebagai Amanat Agung (The Great Commission). Bagian ini merupakan perkataan terakhir Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga. Kata-kata terakhir seseorang biasanya berisi pesan yang paling penting. Karena itu, Amanat Agung bukan sekadar tugas gereja, melainkan panggilan hidup setiap orang percaya yang mengakui bahwa Allah adalah Pemilik kehidupan.
Dalam perspektif Ibrani, Allah disebut יְהוָה (YHWH), Sang Pencipta dan Pemilik segala sesuatu. Mazmur 24:1 berkata, “Milik TUHANlah bumi serta segala isinya.” Artinya, hidup kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik Allah. Ada sebuah ilustrasi tentang seorang pelaut dapat berlayar dengan tenang karena ia percaya pada nahkoda yang memegang kemudi. Demikian juga orang percaya. Kita tidak selalu memahami arah perjalanan hidup, tetapi kita percaya kepada Kristus yang memegang kendali. Ketika Allah menjadi pusat hidup kita, maka tujuan hidup bukan lagi mencari kemuliaan diri, melainkan memuliakan Dia Sang Pemilik Kehidupan. Oleh karena itu, orientasi hidup orang Kristen harus tertuju kepada Allah dan kehendak-Nya. Ayat 17 berkata:
“Ketika mereka melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.”
Kata “menyembah” dalam pemahaman Ibrani berkaitan dengan konsep שָׁחָה (shachah) yang berarti sujud, merendahkan diri, dan mengakui kedaulatan Allah.
Menariknya, para murid menyembah meskipun masih ada keraguan. Ini menunjukkan bahwa iman bukan berarti tidak pernah ragu, melainkan tetap datang kepada Tuhan di tengah keterbatasan.
Dalam kehidupan masa kini, sering kali kita diperhadapkan pada ketidakpastian ekonomi, keluarga, pelayanan, atau masa depan. Namun seorang Kristen yang berorientasi kepada Allah tidak menjadikan keraguan sebagai alasan untuk menjauh dari Tuhan, melainkan tetap menyembah-Nya.
Pengalaman pribadi orang Kristen masa kini: Ada saat-saat ketika doa belum terjawab, pelayanan terasa berat, dan harapan tampak tertunda. Namun ketika tetap datang beribadah, tetap berdoa, dan tetap melayani, kita sedang mengakui bahwa Allah tetap berdaulat atas hidup kita. *“Hidup yang berorientasi kepada Allah bukanlah hidup tanpa badai, tetapi hidup yang tetap setia karena mengetahui siapa yang mengendalikan badai itu.”* Amin.
















Discussion about this post