Topik : *Tenanglah, Jangan Takut*
Nats Khotbah : Matius 14:22-33
Oleh : C.Pdt. Andreas Kristofel Simamora, S.Fil (LPP 2 HKBP Sei Berombang)
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Dalam perikop ini, murid-murid sedang berada di tengah danau ketika angin sakal dan gelombang menerpa. Mereka takut. Di tengah keadaan yang sulit itu, Yesus datang berjalan di atas air dan berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (ay. 27).
1. Tuhan hadir di tengah badai kehidupan
Menariknya, Yesus tidak langsung menghilangkan badai. Ia terlebih dahulu datang kepada murid-murid di tengah badai itu.
Demikian juga kehidupan kita. Ada masa ketika kita menghadapi masalah keluarga, pelayanan, pekerjaan, ekonomi, masa depan, bahkan pergumulan dalam diri sendiri. Kadang kita bertanya, “Tuhan, di mana Engkau?”
Tetapi kisah ini mengingatkan kita: diamnya Tuhan bukan berarti ketidakhadiran Tuhan. Ia tetap melihat, mengetahui, dan datang menolong pada waktu-Nya.
2. Iman mengajak kita keluar dari zona nyaman
Petrus berkata, “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”
Petrus berani melangkah karena perkataan Yesus. Namun ketika ia melihat angin, ia mulai takut dan tenggelam.
Sering kali kita juga seperti Petrus. Ketika melihat Tuhan, kita berani. Tetapi ketika melihat masalah, kita mulai kehilangan fokus.
Kita berkata, “Saya percaya Tuhan.” Tetapi ketika masalah datang, kita lebih banyak melihat masalah daripada melihat Tuhan.
Iman bukan berarti tidak ada badai. Iman berarti tetap memandang Yesus sekalipun badai ada.
3. Ketika kita mulai tenggelam, berserulah kepada Tuhan
Petrus tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Ia hanya berseru:
“Tuhan, tolonglah aku!”
Dan Yesus segera mengulurkan tangan-Nya.
Ini adalah pengalaman yang sangat nyata dalam kehidupan. Ada saat kita merasa sudah tidak sanggup lagi. Kita sudah berusaha, berdoa, bekerja, melayani, tetapi keadaan seakan tidak berubah.
Pada saat seperti itu, jangan malu berkata: “Tuhan, tolonglah aku.”
Tuhan tidak menuntut kita menjadi kuat sendirian. Ia menghendaki kita menyadari bahwa pertolongan dan keselamatan kita berasal daripada-Nya.
Pengalaman kita masa kini
Mungkin kita pernah mengalami masa ketika rencana yang sudah disusun tiba-tiba gagal. Kita pernah kecewa karena orang yang kita percaya mengecewakan kita. Kita pernah melayani dengan sungguh-sungguh tetapi tidak dihargai. Kita pernah berdoa sekian lama tetapi belum melihat jawaban.
Kita mungkin merasa seperti berada di tengah danau dengan gelombang besar.
Namun Matius 14 mengajarkan: jangan mengukur kasih Tuhan berdasarkan tenang atau tidaknya keadaan kita.
Kadang Tuhan tidak langsung menghentikan badai, tetapi Ia memberikan kekuatan supaya kita dapat melewatinya.
Penutup
Pada akhirnya, setelah Yesus dan Petrus naik ke perahu, angin pun reda. Para murid kemudian berkata:
“Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Badai yang awalnya membuat mereka takut akhirnya menjadi kesempatan bagi mereka untuk semakin mengenal siapa Yesus.
Karena itu, ketika kita menghadapi badai kehidupan, jangan hanya bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan ini terjadi?” Tetapi mari bertanya:
“Apa yang Tuhan sedang ajarkan kepadaku melalui badai ini?”
Jangan lepaskan pandangan dari Yesus.
Jangan menyerah ketika mulai tenggelam.
Dan ketika kekuatan kita habis, berserulah:
“Tuhan, tolonglah aku!”
Sebab tangan yang terulur kepada Petrus adalah tangan Tuhan yang sama yang sampai hari ini menopang kehidupan kita.
Amin.













Discussion about this post