Evangelium: Filemon 1: 4-7
Pengkhotbah: Pdt. Dr. Deonal Sinaga (Ka. Dep. Koinonia HKBP)*
Topik: Kasih Yang Menggembirakan dan Menguatkan
1. Saudara terkasih, selamat Hari Minggu dan salam dari Balige! Kiranya damai sejahtera Kristus memenuhi hati dan kehidupan kita! Firman Tuhan pada Minggu IV Setelah Trinitatis ini (Filemon 1:4–7) adalah berita sukacita, pengajaran hikmat, dan inspirasi tentang hubungan yang dibangun di atas kasih serta saling percaya di antara sesama pengikut Kristus.
2. Hubungan yang dibangun di atas kasih, ketulusan, kesetiaan, dan saling percaya akan bertahan menghadapi berbagai tantangan. Hubungan seperti itulah yang menghasilkan buah yang menggembirakan dan menguatkan, sebagaimana tema Minggu ini.
3. Perikop ini tampak sederhana. Rasul Paulus menulis surat kepada seseorang yang sangat dekat di hatinya, yaitu Filemon. Setelah salam pembuka yang penuh kehangatan, Paulus mengungkapkan rasa syukurnya kepada Allah setiap kali ia mengingat Filemon.
4. Filemon dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih, murah hati, setia melayani, dan memiliki dedikasi yang tinggi dalam membangun persekutuan orang percaya. Karena kehidupan Filemon yang demikian, Paulus—meskipun sedang berada di tempat jauh dalam penjara—tetap memperoleh kekuatan, sukacita, dan penghiburan.
5. Kasih dan kehidupan Filemon menjadi berkat, bukan hanya bagi orang-orang yang dekat dengannya, tetapi juga bagi mereka yang jauh. Sikap hidupnya menjadi inspirasi dan menghadirkan sukacita bagi banyak orang.
6. Namun sesungguhnya, Paulus tidak sedang sekadar memuji Filemon. Di balik ungkapan syukurnya, ada maksud yang lebih mendalam. Dengan bahasa yang lembut, penuh hikmat, dan sangat berhati-hati, Paulus sedang mempersiapkan Filemon untuk menerima sebuah permohonan penting, yaitu tentang Onesimus.
7. Siapakah Onesimus? Ia adalah seorang muda yang bertemu dengan Paulus ketika Paulus berada di penjara. Alkitab tidak menjelaskan secara rinci bagaimana pertemuan itu terjadi. Namun yang jelas, melalui perjumpaan tersebut Onesimus bertobat, menjadi percaya kepada Kristus, dan bertumbuh menjadi anak rohani Paulus.
8. Bagi Paulus, Onesimus adalah pribadi yang sangat berharga. Ia banyak membantu pelayanan Paulus. Namun Paulus memahami bahwa setiap hubungan harus dibangun di atas kebenaran, kejujuran, keterbukaan, dan keadilan. Tidak boleh ada dusta atau kepura-puraan di antara sesama orang percaya.
9. Ternyata Onesimus adalah hamba milik Filemon. Kemungkinan ia pernah melakukan kesalahan atau melarikan diri dari tuannya. Alkitab tidak menjelaskan seluruh peristiwanya. Namun yang pasti, pernah ada hubungan yang retak antara Filemon dan Onesimus.
10. Paulus berusaha menyelesaikan persoalan itu dengan kasih, iman, pengampunan, dan keterbukaan. Ia tidak memanfaatkan kewibawaan atau jasa-jasanya kepada Filemon untuk memaksakan sebuah keputusan. Sebaliknya, ia mengajak Filemon dengan kasih Kristus agar menerima kembali Onesimus, bukan lagi sebagai hamba, melainkan sebagai saudara yang terkasih di dalam Tuhan.
11. Paulus menginginkan terjadinya rekonsiliasi yang sejati. Rekonsiliasi yang bukan didasarkan pada perhitungan untung-rugi atau balas dendam, melainkan pada kasih Kristus yang menerima, memulihkan, dan memperbarui. Bahkan pengalaman pahit di masa lalu dapat dipakai Allah menjadi jalan bagi hadirnya anugerah.
12. Paulus menulis, “…mungkin karena itulah dia dipisahkan sejenak daripadamu, supaya engkau dapat menerimanya kembali untuk selama-lamanya.” (ayat 15).
13. Inilah kasih agape—kasih yang tertinggi, sebagaimana Allah telah lebih dahulu nyatakan kepada kita. Kasih yang tanpa syarat, tidak mencari keuntungan diri sendiri, rela mengampuni, menerima sesama apa adanya, dan menghadirkan sukacita serta kekuatan bagi banyak orang.
14. Paulus berharap Filemon menghidupi kasih agape itu. Kasih yang sanggup menerima Onesimus bukan lagi sebagai seorang hamba, melainkan sebagai saudara seiman di dalam Kristus. Di dalam Kristus, relasi yang rusak dipulihkan dan martabat manusia dikembalikan..
15. Demikian pula Tuhan memanggil kita untuk menghidupi kasih yang sama di tengah keluarga, kerabat, sahabat, rekan kerja, dan sesama. Ketika kasih Kristus menjadi dasar hubungan kita, kita akan saling mengampuni, saling menopang, saling menguatkan, saling mendoakan, dan bersama-sama menjadi saluran berkat bagi banyak orang. Sungguh, hal-hal yang luar biasa akan dikerjakan Tuhan melalui kehidupan yang dipenuhi kasih.
16. Dear friends, I wish you a blessed and joyful Sunday! Let us show sincere love to one another! True love brings joy, strength, and peace. May God bless you!














Discussion about this post