Topik : “Berharap kepada Allah yang menyelamatkan
Nats Khotbah : Mikha 7 : 7 – 13
Syalom, Bapak Ibu dan Saudara yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Firman Tuhan yang menjadi kekuatan bagi kita tertulis di dalam Kitab Mikha 7 : 7 – 13 demikian bunyinya :
Ayat 7 : Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu TUHAN, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku!
Ayat 8 : Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.
Ayat 9 : Aku akan memikul kemarahan TUHAN, sebab aku telah berdosa kepada-Nya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilan-Nya.
Ayat 10 : Musuhku akan melihatnya dan dengan malu ia akan menutupi mukanya, dia yang berkata kepadaku: “Di mana TUHAN, Allahmu?” Mataku akan memandangi dia; sekarang ia diinjak-injak seperti lumpur di jalan.
Ayat 11 : Akan datang suatu hari bahwa pagar tembokmu akan dibangun kembali; pada hari itulah perbatasanmu akan diperluas.
Ayat 12 : Pada hari itu orang akan menghadap engkau dari Asyur sampai Mesir, dari Mesir sampai sungai Efrat, dari laut ke laut, dari gunung ke gunung.
Ayat 13 : Tetapi bumi akan menjadi tandus oleh karena penduduknya, sebagai akibat perbuatan mereka.
Bapak/Ibu dan Saudara, secara teologis, ayat ini menegaskan iman yang bersifat eskatologis dan relasional. Mikha tidak berharap pada kekuatan politik, pemulihan sosial, atau kesalehan manusia, melainkan pada Allah sendiri.
Kata menantikan menunjukkan sikap aktif, bukan pasif.
Allah disebut Allah yang menyelamatkan, menegaskan bahwa keselamatan adalah inisiatif ilahi (sola gratia).
Iman sejati bukan bebas dari penderitaan, tetapi setia menunggu Allah di tengah penderitaan.
*Musuh yang mengejek iman umat Allah akhirnya dipermalukan*. Ini menegaskan bahwa:
1. Allah adalah Tuhan sejarah.
2. Penghakiman dan pembenaran berada di tangan-Nya, bukan manusia.
Allah tidak pernah kehilangan kendali, bahkan saat umat-Nya terlihat kalah.
Ayat ini menegaskan bahwa: Penghakiman Allah adalah nyata dan serius. Namun, penghukuman bukan akhir ; melainkan jalan menuju pembaruan.
Refleksi :
1. Apakah kita masih berharap kepada Tuhan saat hidup terasa berat?
2. Apakah kita mau kembali kepada Tuhan saat ditegur?
Selamat menjalani kehidupan Bapak Ibu. Tuhan Memberkati
















Discussion about this post