Mediamasip.com
No Result
View All Result
  • News
    • Daerah
    • Nasional
    • Regional
    • Dunia
  • Peristiwa
  • Hukum
  • Opini
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Wisata
Mediamasip.com
No Result
View All Result
Mediamasip.com
  • NEWS
  • DAERAH
  • REGIONAL
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • PERISTIWA
  • HUKUM
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • OLAHRAGA
HomeOpini

Menguji Bahasa, Mengabaikan Literasi: Ketika Sekolah Kehilangan Makna

Penulis: Mediamasip.com
2 Juni 2026 | 21:09 WIB
inOpini, Pendidikan

Oleh:: Christian Neni Purba
(Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang)

Di sebuah kelas bahasa di tingkat SMP, seorang siswa mampu menjawab hampir semua soal pilihan ganda dengan benar. Ia tahu mana ide pokok, mana makna kata, dan mana jawaban yang dianggap paling tepat oleh kunci. Namun, ketika guru bertanya lebih jauh siapa yang tidak terwakili dalam teks yang ia baca, ia terdiam. Bukan karena ia tidak mampu berpikir, tetapi karena ia tidak pernah diminta untuk berpikir sejauh itu.

Potret kecil ini barangkali mewakili banyak ruang kelas di Indonesia. Pembelajaran bahasa masih sering dipersempit menjadi latihan teknis: menghafal kaidah, mengenali struktur, dan memilih jawaban yang benar. Ujian berfungsi seperti mesin sortir, mengelompokkan siswa berdasarkan angka, bukan kedalaman pemahaman. Dalam situasi seperti ini, kita jarang berhenti untuk mempertanyakan satu hal mendasar: apa sebenarnya yang sedang kita ukur?

Masalahnya tidak berhenti pada bentuk soal, melainkan pada logika yang melandasinya. Ketika penilaian didominasi oleh pilihan ganda dengan satu jawaban benar, kita secara tidak langsung sedang mengajarkan bahwa bahasa adalah sesuatu yang pasti, netral, dan bebas nilai. Padahal, seperti diingatkan oleh Brian Street, literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan praktik sosial yang selalu terkait dengan konteks, ideologi, dan relasi kekuasaan. Membaca, dengan demikian, tidak pernah benar-benar netral.
Pandangan ini sejalan dengan Norman Fairclough yang melihat bahasa sebagai praktik sosial yang membentuk sekaligus dibentuk oleh kekuasaan. Dalam setiap teks, selalu ada posisi, kepentingan, dan sudut pandang yang bekerja secara halus. Ketika siswa hanya dilatih mencari jawaban benar, tanpa diajak mengurai relasi tersebut, mereka kehilangan kesempatan untuk memahami bagaimana bahasa bekerja dalam kehidupan nyata.

Dalam perspektif yang lebih humanistik, Paulo Freire mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada “membaca kata”, tetapi harus bergerak menuju “membaca dunia”. Artinya, pembelajaran bahasa seharusnya tidak hanya mengajarkan struktur, tetapi juga mengembangkan kesadaran kritis terhadap realitas sosial yang direpresentasikan melalui bahasa.
Akibatnya, siswa terlatih menjadi pembaca yang patuh. Mereka membaca untuk menemukan jawaban, bukan untuk memahami makna. Mereka mungkin mampu mengidentifikasi ide pokok, tetapi belum tentu mampu melihat siapa yang disenyapkan dalam teks. Mereka dapat menjelaskan arti kata, tetapi belum tentu peka terhadap bias yang tersembunyi di baliknya. Inilah ironi pendidikan bahasa kita: tampak berhasil di atas kertas, tetapi rapuh dalam kesadaran.

Baca Juga

Tim PKM Dosen UHKBP Nommensen Pematangsiantar Kolaborasi Dosen Unpri Gelar Pelatihan Model ULOS Berbasis Augmented Reality

Alumni UHKBPNP Diharapkan Menjadi Generasi Yang Unggul, Berkarakter dan Berdampak

Kukuhkan 185 Lulusan. FKIP UHKBPNP Siap Wujudkan Generasi Pendidik Tangguh, Berkarakter, dan Berdampak

Pada titik ini, kita perlu jujur. Rendahnya daya kritis siswa bukan semata kesalahan individu, melainkan cerminan dari ekosistem belajar yang kita bangun. Ketika kelas dipenuhi latihan soal dan target nilai, ruang dialog menjadi sempit. Ketika buku yang digunakan monoton dan miskin perspektif, cara berpikir siswa pun ikut menyempit. Pendidikan akhirnya lebih sibuk melatih keterampilan menjawab daripada membangun kemampuan memahami.

Karena itu, menghadirkan literasi bermutu di kelas bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Buku tidak boleh diposisikan sekadar sebagai bahan bacaan tambahan, tetapi sebagai sumber gizi intelektual. Di sinilah kita perlu memperluas cara pandang: literatur bermutu yang masuk ke kelas tidak boleh berhenti pada buku paket dan LKS semata. Siswa perlu “diberi makan” dengan teks-teks yang hidup sastra, esai, opini, berita, hingga cerita rakyat karena semua itu adalah gizi yang memungkinkan mereka bertumbuh dalam berliterasi.

Seperti tubuh yang tidak bisa berkembang hanya dengan satu jenis makanan, pikiran siswa pun tidak akan berkembang jika hanya diberi satu jenis bacaan. Ketika kelas hanya bergantung pada buku paket dan lembar kerja, yang terjadi bukanlah pengayaan, melainkan penyempitan pengalaman membaca. Padahal, justru dari keberagaman teks itulah siswa belajar melihat dunia dari berbagai sudut.

Dalam kerangka yang dijelaskan oleh Hilary Janks, literasi kritis selalu berkaitan dengan kekuasaan, akses, keragaman, dan desain makna. Tanpa akses terhadap teks yang beragam, siswa tidak memiliki cukup ruang untuk memahami bahwa makna tidak pernah tunggal, melainkan selalu dinegosiasikan.

Lebih jauh, Claire Kramsch menegaskan bahwa bahasa tidak bisa dipisahkan dari budaya dan identitas. Artinya, pembelajaran bahasa yang hanya berfokus pada struktur akan kehilangan dimensi kultural yang justru membuat bahasa hidup dan bermakna. Tanpa dimensi ini, siswa mungkin fasih secara teknis, tetapi miskin dalam pemahaman kontekstual.

Namun, menghadirkan literasi bermutu tidak cukup jika hanya bergantung pada inisiatif guru. Di sinilah peran kurikulum menjadi krusial. Kurikulum perlu secara tegas menjamin bahwa praktik literasi, termasuk literasi kritis dan literasi berbasis kearifan lokal, benar-benar hadir dalam pembelajaran. Tanpa dukungan struktural, literasi akan terus dipinggirkan, kalah oleh tekanan target materi dan ujian.

Dalam konteks ini, Kurikulum Merdeka sebenarnya membuka peluang yang besar. Fleksibilitas dalam pemilihan materi ajar dan penekanan pada pembelajaran berbasis kompetensi memberi ruang bagi guru untuk menghadirkan teks yang lebih kontekstual dan bermakna. Kelas bahasa tidak harus terikat pada buku paket semata, tetapi dapat diperluas dengan berbagai sumber literasi yang relevan dengan kehidupan siswa.
Sayangnya, peluang ini sering tidak dimanfaatkan secara optimal. Praktik di lapangan masih menunjukkan kecenderungan lama: pembelajaran diarahkan pada ketuntasan materi dan hasil asesmen. Ruang kebebasan yang diberikan kurikulum belum sepenuhnya bertransformasi menjadi ruang berpikir kritis. Alih-alih menjadi ruang refleksi, kelas tetap berujung pada latihan soal.
Padahal, jika dimaknai secara serius, kurikulum ini dapat menjadi landasan kuat untuk mengintegrasikan literasi bermutu ke dalam pembelajaran. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih teks yang tidak hanya informatif, tetapi juga problematis, yang memancing pertanyaan, bukan sekadar menyediakan jawaban. Di sinilah pembelajaran bahasa dapat kembali menemukan relevansinya sebagai alat untuk membaca dunia.

Dalam konteks ini, kearifan lokal menjadi sumber literasi yang sangat relevan, tetapi sering terabaikan. Dalam budaya Simalungun, misalnya, bahasa tidak sekadar alat komunikasi, melainkan juga medium pengetahuan dan nilai. Ungkapan seperti Marharoan Bolon tidak hanya mengajarkan gotong royong, tetapi juga mengandung kritik terhadap individualisme. Sapanganbei Manoktok Hitei mencerminkan kebersamaan sekaligus memunculkan pertanyaan tentang keadilan sosial. Sementara Habonaron do Bona menegaskan bahwa kebenaran adalah fondasi kehidupan.
Jika ungkapan-ungkapan ini dihadirkan dalam pembelajaran, siswa tidak hanya belajar memahami makna, tetapi juga menguji relevansinya. Apakah nilai kebersamaan masih hidup di tengah sistem pendidikan yang kompetitif? Apakah kejujuran benar-benar menjadi dasar dalam praktik penilaian? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membawa pembelajaran bahasa ke ranah refleksi yang lebih dalam, menghubungkan teks dengan realitas.
Hal serupa dapat ditemukan dalam cerita rakyat. Kisah seperti Si Ganjang Kateas tidak sekadar bercerita tentang seseorang yang “meninggi”, tetapi juga tentang ambisi yang melampaui batas. Dalam konteks hari ini, simbol tersebut terasa dekat: hadir dalam praktik kekuasaan yang tidak lagi melayani, dalam kompetisi yang mengabaikan etika, bahkan dalam dunia pendidikan yang terlalu menekankan angka sebagai ukuran keberhasilan.

Pertanyaannya, apakah kita sedang membentuk generasi yang memahami batas, atau justru mendorong mereka untuk terus “meninggi” tanpa pijakan nilai?

Di sinilah cerita rakyat menemukan relevansinya kembali. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cermin untuk membaca masa kini. Ketika siswa diajak menafsirkan dan mempertanyakan cerita, mereka tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga belajar memahami kehidupan.
Lebih jauh, tradisi musyawarah dalam budaya lokal menawarkan model pembelajaran yang dialogis. Kelas dapat menjadi ruang negosiasi makna, tempat siswa berdiskusi, berargumentasi, dan membangun pemahaman bersama. Proses ini mungkin tidak menghasilkan satu jawaban tunggal, tetapi justru melatih kemampuan yang lebih esensial: berpikir kritis, mendengar, dan mengambil posisi secara reflektif.
Namun, semua potensi ini akan sulit terwujud jika sistem penilaian tetap menjadi penghambat utama. Selama asesmen masih berpusat pada jawaban benar-salah, pembelajaran akan terus diarahkan pada hasil, bukan proses. Guru cenderung bermain aman, dan siswa akan terus belajar untuk menjawab, bukan memahami.
Karena itu, perubahan tidak cukup hanya pada metode mengajar, tetapi juga harus menyentuh cara menilai. Penilaian perlu bergeser dari sekadar produk menuju proses berpikir. Esai reflektif, analisis teks, interpretasi kritis, hingga diskusi terstruktur perlu diakui sebagai bentuk evaluasi yang sah. Tanpa perubahan ini, fleksibilitas kurikulum hanya akan menjadi formalitas administratif.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi berapa nilai yang diperoleh siswa, tetapi bagaimana mereka memaknai dunia melalui bahasa. Jika ujian hanya menghasilkan angka tanpa kesadaran, maka ia telah gagal menjalankan fungsinya sebagai bagian dari proses pendidikan.
Jika kita terus mempertahankan sistem ini, maka yang kita bentuk bukanlah pembaca kritis, melainkan generasi yang patuh tetapi rapuh. Dan mungkin, sudah saatnya kita berani mengakui: bukan siswa yang gagal memahami bahasa, melainkan sistem kita—termasuk kurikulum, praktik pembelajaran, dan cara menilai yang gagal memaknai pembelajaran itu sendiri.(*)

Tags:doktoralMahasiawa

Lanjutkan Membaca

Pendidikan

Tim PKM Dosen UHKBP Nommensen Pematangsiantar Kolaborasi Dosen Unpri Gelar Pelatihan Model ULOS Berbasis Augmented Reality

Penulis: Mediamasip.com
15 Juli 2026 | 12:34 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Dalam upaya meningkatkan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi digital dengan kearifan lokal pada proses pembelajaran, tim dosen Universitas HKBP...

Read more
Pendidikan

Alumni UHKBPNP Diharapkan Menjadi Generasi Yang Unggul, Berkarakter dan Berdampak

Penulis: Mediamasip.com
20 Juni 2026 | 19:48 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar (UHKBPNP) melaksanakan wisuda kepada 207 mahasiswa dari tiga Fakultas. Wisuda dilaksanakan di Aula UHKBPNP Jalan...

Read more
Pendidikan

Kukuhkan 185 Lulusan. FKIP UHKBPNP Siap Wujudkan Generasi Pendidik Tangguh, Berkarakter, dan Berdampak

Penulis: Mediamasip.com
17 Juni 2026 | 11:45 WIB

SIANTAR – MEDIAMASIP.COM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar (UHKBPNP) sukses menggelar upacara Yudisium bagi 185...

Read more
Opini

AI dan Masa Depan Nalar Anak

Penulis: Mediamasip.com
1 Juni 2026 | 21:16 WIB

Oleh: Asima Rohana Sinaga Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Semarang Seorang siswa dapat menyelesaikan tugas sekolah hanya dalam...

Read more
Pendidikan

Pemkab Tapanuli Utara Serius Wujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Penulis: Mediamasip.com
19 Mei 2026 | 19:09 WIB

TAPUT-MEDIAMASIP.COM Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Pemkab Taput) menjadi satu-satunya kabupaten di Sumatera Utara yang telah menetapkan Surat Keputusan (SK) Bupati...

Read more
Pendidikan

Tetap Relevan di Era Digital, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UHN Pematangsiantar Raih Akreditasi “Baik Sekali”

Penulis: Mediamasip.com
11 Mei 2026 | 18:52 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Di tengah isu penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas...

Read more
Opini

Siantar Antara Kemegahan Menara, Markas Komando, dan Bayang-Bayang Kriminalitas

Penulis: Mediamasip.com
23 April 2026 | 07:50 WIB

Oleh:  Gr. Gomgom Pantun Margunawan Pakpahan  (Mahasiswa STFT Jakarta) Pematangsiantar sering kali dibanggakan sebagai "Miniatur Indonesia" dan salah satu kota...

Read more
Pendidikan

Inovasi Pelayanan Publik

Penulis: Mediamasip.com
12 April 2026 | 20:56 WIB

EAZY PASSPORT: Kebijakan yang Lahir dari Kegelisahan Rakyat Oleh: Anastasya Febiona Tambunan Sebuah kebijakan yang baik tidak lahir dari ruang...

Read more
Pendidikan

Akselerasi Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pasca-Bencana Melalui Inovasi Pakan Ikan Mandiri Berbasis Buah Campnosperma Auriculatum dan Sekolah Darurat.

Penulis: Mediamasip.com
7 April 2026 | 15:28 WIB

TAPSEL-MEDIAMASIP.COM Dosen dan Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar (UHKBPNP) melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat dan Program Mahasiswa Berdampak Bencana Sumatera 2026...

Read more
Pendidikan

SMP Teladan Pematangsiantar Sekolah Unggulan Pilihan Masyarakat

Penulis: Mediamasip.com
16 Maret 2026 | 21:49 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Salah satu sekolah lanjutan tingkat pertama yang menjadi pilihan adalah Perguruan Teladan Pematangsiantar dimana di sekolah ini telah menetapkan...

Read more

Discussion about this post

Berita Terkini

Daerah

Bahas Huntap. Bupati Humbahas Ikuti Rakor Bersama Mendagri dan Menteri PKP

21 Juli 2026 | 21:20 WIB
News

‎Pemkab Taput Sampaikan Nota Jawaban Bupati atas Pendapat Bapemperda dan Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPRD

21 Juli 2026 | 21:13 WIB
Daerah

Pemkab Bersama Polres Humbahas Tandatangani NPHD Pilkades Serentak

21 Juli 2026 | 14:34 WIB
News

Tolak Upaya Damai. Keluarga dan Korban KDRT di Pematangsiantar Minta Hukum Ditegakkan Sampai Tuntas

21 Juli 2026 | 14:05 WIB
News

Tim SAR Brimob Polda Sumut Bergerak Cepat, Evakuasi Korban dan Amankan Lokasi Ledakan di Grand Polonia Medan

21 Juli 2026 | 09:00 WIB
News

Tim Hukum Solid! Johanes Silaen & Briliant Togatorop Resmi Dampingi Pemeran Film Horas Amang Yang Jadi Korban KDRT

20 Juli 2026 | 09:21 WIB
Olahraga

Dandim 0207/Simalungun Pimpin Jalan Santai Sehat, Dalam Rangka Event Festival Rakyat Di Kota Pematangsiantar

19 Juli 2026 | 13:37 WIB
News

Advokat Johanes Silaen Kunjungi Vanessha, Korban KDRT Yang Sedang Viral

19 Juli 2026 | 13:32 WIB
Daerah

‎Pemkab Taput Lakukan Penyegaran Birokrasi, Tekankan Kompetensi dan Integritas

18 Juli 2026 | 11:45 WIB
Peristiwa

Terus Mengalami KDRT Artis Pemeran Film Horas Amang Laporkan Suami ke Polisi

18 Juli 2026 | 08:22 WIB
News

Tim Jibom Sat Brimob Polda Sumut, Berhasil Didisposal Granat Asap Militer di Pematang Siantar

17 Juli 2026 | 19:06 WIB
News

Sat Brimob Polda Sumut Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Beruntun di Jalur Medan–Berastagi, Evakuasi Korban dan Amankan Arus Lalu Lintas

17 Juli 2026 | 18:35 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2022-2024 Mediamasip.com

RotasiBarakBerita SiantarBerita SimalungunDanau Tobasumber berita

No Result
View All Result
  • News
    • Daerah
    • Nasional
    • Regional
    • Dunia
  • Peristiwa
  • Hukum
  • Opini
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Wisata

© 2022-2024 Mediamasip.com

RotasiBarakBerita SiantarBerita SimalungunDanau Tobasumber berita