Mediamasip.com
No Result
View All Result
  • News
    • Daerah
    • Nasional
    • Regional
    • Dunia
  • Peristiwa
  • Hukum
  • Opini
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Wisata
Mediamasip.com
No Result
View All Result
Mediamasip.com
  • NEWS
  • DAERAH
  • REGIONAL
  • NASIONAL
  • DUNIA
  • PERISTIWA
  • HUKUM
  • OPINI
  • PENDIDIKAN
  • WISATA
  • OLAHRAGA
HomeOpini

AI dan Masa Depan Nalar Anak

Penulis: Mediamasip.com
1 Juni 2026 | 21:16 WIB
inOpini, Pendidikan

Oleh: Asima Rohana Sinaga
Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa, Universitas Negeri Semarang

Seorang siswa dapat menyelesaikan tugas sekolah hanya dalam beberapa menit dengan bantuan Artificial Intelligence (AI). Ia mampu membuat ringkasan buku, menjawab soal, menyusun presentasi, bahkan menulis esai yang tampak rapi dan meyakinkan. Namun ketika guru bertanya mengapa ia memilih jawaban tersebut, tidak sedikit yang kesulitan menjelaskannya.
Fenomena ini mulai muncul di berbagai ruang kelas: anak-anak semakin mudah memperoleh jawaban, tetapi semakin jarang menjelaskan cara berpikir mereka.

Perkembangan AI telah mengubah cara belajar generasi muda. Apa yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diperoleh dalam hitungan detik. Teknologi menghadirkan kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Namun di balik kemudahan tersebut tersimpan tantangan yang jauh lebih besar daripada sekadar kemampuan mengoperasikan teknologi.

Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan anak-anak tetap mampu berpikir ketika hampir semua jawaban tersedia secara instan.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa Indonesia masih berada jauh di bawah rata-rata negara-negara OECD. Skor membaca Indonesia hanya mencapai 359 poin, sementara rata-rata OECD mencapai 476 poin. Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya sekitar seperempat siswa Indonesia yang mencapai kompetensi minimum dalam membaca. Data ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan menghubungkan informasi secara mendalam. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pendidikan Indonesia saat ini bukan lagi sekadar akses terhadap informasi.

Anak-anak Indonesia hidup di tengah banjir informasi yang tidak pernah dialami generasi sebelumnya. Melalui internet dan AI, hampir semua pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah. Namun memiliki akses terhadap informasi tidak otomatis melahirkan kemampuan berpikir. Informasi yang melimpah justru dapat menjadi masalah ketika tidak diiringi kemampuan untuk memahami, mengkritisi, dan memaknainya secara bijaksana.

Baca Juga

Tim PKM Dosen UHKBP Nommensen Pematangsiantar Kolaborasi Dosen Unpri Gelar Pelatihan Model ULOS Berbasis Augmented Reality

Alumni UHKBPNP Diharapkan Menjadi Generasi Yang Unggul, Berkarakter dan Berdampak

Kukuhkan 185 Lulusan. FKIP UHKBPNP Siap Wujudkan Generasi Pendidik Tangguh, Berkarakter, dan Berdampak

Ironisnya, ketika kemampuan berpikir kritis masih menjadi pekerjaan rumah besar, teknologi justru menawarkan jalan pintas yang sangat menggoda. Banyak siswa menggunakan AI untuk mencari jawaban tercepat, menyelesaikan tugas sekolah, atau membuat rangkuman tanpa terlebih dahulu berusaha memahami materi yang dipelajari. Akibatnya, proses belajar yang seharusnya menjadi ruang latihan berpikir perlahan berubah menjadi aktivitas menerima jawaban yang sudah jadi. Di banyak ruang kelas, guru mulai menemukan gejala yang sama. Siswa mampu menghasilkan tugas yang terlihat baik, tetapi kesulitan menjelaskan logika di balik pekerjaannya. Mereka mengetahui hasil akhirnya, tetapi tidak memahami proses yang mengantarkan pada hasil tersebut. Mereka memiliki informasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman. Dalam jangka panjang, kondisi ini berisiko melahirkan generasi yang terbiasa menerima kesimpulan tanpa melalui proses penalaran yang memadai.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang kita hadapi sesungguhnya lebih dalam daripada sekadar penggunaan teknologi di ruang kelas. Ketika anak terbiasa menerima jawaban tanpa proses berpikir yang memadai, masalahnya tidak hanya berkaitan dengan cara belajar di sekolah, tetapi juga dengan budaya berpikir yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah peran keluarga menjadi sangat penting. Sebelum anak mengenal guru, buku pelajaran, atau bahkan kecerdasan buatan, mereka terlebih dahulu belajar dari rumah.

Keluarga merupakan sekolah pertama yang membentuk cara anak memandang dunia. Dari percakapan sederhana di meja makan, respons orang tua terhadap pertanyaan anak, hingga kebiasaan berdiskusi tentang peristiwa sehari-hari, semua itu menjadi fondasi yang membentuk kemampuan bernalar mereka. Karena itu, kualitas nalar anak sesungguhnya mulai dibangun jauh sebelum mereka memasuki ruang kelas.
Namun, banyak keluarga saat ini lebih fokus pada pencapaian akademik dan penguasaan teknologi dibandingkan pengembangan kemampuan berpikir. Tidak sedikit orang tua yang merasa bangga ketika anak mampu menggunakan berbagai aplikasi digital, tetapi kurang memberi ruang bagi anak untuk bertanya, berpendapat, atau mengemukakan alasan atas pemikirannya. Padahal kemampuan berpikir kritis tidak lahir dari kecanggihan perangkat yang dimiliki anak, melainkan dari budaya dialog yang tumbuh dalam keluarga. Ketika anak bertanya, orang tua tidak selalu harus memberikan jawaban. Justru pertanyaan balik seperti, “Menurutmu bagaimana?”, “Mengapa kamu berpikir demikian?”, atau “Apa alasanmu?” sering kali lebih berharga daripada jawaban yang langsung diberikan.

Melalui dialog sederhana tersebut, anak belajar menyusun argumen, mempertimbangkan berbagai kemungkinan, dan membangun kepercayaan terhadap kemampuan berpikirnya sendiri.
Di era AI, peran orang tua tidak lagi sekadar mengawasi penggunaan teknologi, tetapi juga mendampingi cara anak berinteraksi dengannya. Anak perlu diajarkan bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak, melainkan alat yang harus diuji, dipertanyakan, dan didiskusikan. Ketika budaya bertanya dan berdialog tumbuh di rumah, AI akan menjadi sarana yang memperkaya cara berpikir anak. Sebaliknya, tanpa pendampingan keluarga, AI berpotensi menjadi jalan pintas yang membuat anak terbiasa menerima jawaban tanpa proses refleksi. Pandangan ini sejalan dengan UNESCO yang menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan harus memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Dengan kata lain, AI seharusnya membantu anak berpikir lebih baik, bukan berpikir menggantikan mereka.

Jika keluarga merupakan tempat lahirnya rasa ingin tahu, maka sekolah seharusnya menjadi ruang untuk mengembangkannya. Sayangnya, banyak proses pembelajaran masih berfokus pada pencarian jawaban yang benar daripada pengembangan pertanyaan yang bermakna. Akibatnya, rasa ingin tahu yang seharusnya tumbuh justru sering berhenti pada tuntutan menyelesaikan tugas dan memperoleh nilai. Sekolah perlu mulai bergeser dari budaya mencari jawaban menuju budaya mengembangkan pertanyaan. Selama ini keberhasilan belajar sering diukur dari kemampuan siswa menemukan jawaban yang benar. Padahal di era AI, kecepatan menemukan jawaban bukan lagi keunggulan manusia. AI akan selalu lebih cepat. Yang membedakan manusia dari mesin adalah kemampuan untuk mempertanyakan, meragukan, menafsirkan, dan memberikan makna terhadap informasi yang diterimanya.
Di sinilah cara pandang terhadap AI perlu diubah. AI tidak seharusnya diposisikan sebagai mesin pemberi jawaban, tetapi sebagai mitra dialog yang membantu anak mengembangkan nalar. Ketika seorang anak bertanya kepada AI, “Apa pesan moral cerita Malin Kundang?”, ia hanya menerima jawaban. Namun ketika ia bertanya, “Mengapa Malin Kundang durhaka kepada ibunya?”, “Apakah hukuman yang diterimanya adil?”, atau “Bagaimana jika peristiwa itu terjadi pada zaman sekarang?”, maka proses berpikir mulai bekerja. Anak belajar menganalisis, membandingkan sudut pandang, mengevaluasi argumentasi, dan membangun kesimpulannya sendiri. Dalam konteks seperti ini, AI tidak lagi berfungsi sebagai pengganti pikiran, melainkan sebagai pengasah nalar.

Pada akhirnya, ancaman terbesar di era AI bukanlah mesin yang semakin pintar, melainkan manusia yang semakin jarang berpikir. Karena itu, keluarga harus menjadi tempat lahirnya rasa ingin tahu, sekolah menjadi ruang tumbuhnya berpikir kritis, dan AI menjadi mitra yang memperluas wawasan. Hanya dengan cara itulah kita dapat melahirkan generasi yang tidak sekadar cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam menggunakannya.(*)

Tags:AIdoktoralMahasiswamahasiswi

Lanjutkan Membaca

Pendidikan

Tim PKM Dosen UHKBP Nommensen Pematangsiantar Kolaborasi Dosen Unpri Gelar Pelatihan Model ULOS Berbasis Augmented Reality

Penulis: Mediamasip.com
15 Juli 2026 | 12:34 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Dalam upaya meningkatkan kompetensi guru dalam mengintegrasikan teknologi digital dengan kearifan lokal pada proses pembelajaran, tim dosen Universitas HKBP...

Read more
Pendidikan

Alumni UHKBPNP Diharapkan Menjadi Generasi Yang Unggul, Berkarakter dan Berdampak

Penulis: Mediamasip.com
20 Juni 2026 | 19:48 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar (UHKBPNP) melaksanakan wisuda kepada 207 mahasiswa dari tiga Fakultas. Wisuda dilaksanakan di Aula UHKBPNP Jalan...

Read more
Pendidikan

Kukuhkan 185 Lulusan. FKIP UHKBPNP Siap Wujudkan Generasi Pendidik Tangguh, Berkarakter, dan Berdampak

Penulis: Mediamasip.com
17 Juni 2026 | 11:45 WIB

SIANTAR – MEDIAMASIP.COM Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar (UHKBPNP) sukses menggelar upacara Yudisium bagi 185...

Read more
Opini

Menguji Bahasa, Mengabaikan Literasi: Ketika Sekolah Kehilangan Makna

Penulis: Mediamasip.com
2 Juni 2026 | 21:09 WIB

Oleh:: Christian Neni Purba (Mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang) Di sebuah kelas bahasa di tingkat SMP, seorang...

Read more
Pendidikan

Pemkab Tapanuli Utara Serius Wujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman

Penulis: Mediamasip.com
19 Mei 2026 | 19:09 WIB

TAPUT-MEDIAMASIP.COM Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Pemkab Taput) menjadi satu-satunya kabupaten di Sumatera Utara yang telah menetapkan Surat Keputusan (SK) Bupati...

Read more
Pendidikan

Tetap Relevan di Era Digital, Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UHN Pematangsiantar Raih Akreditasi “Baik Sekali”

Penulis: Mediamasip.com
11 Mei 2026 | 18:52 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Di tengah isu penghapusan program studi yang dianggap tidak relevan dengan perkembangan zaman, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas...

Read more
Opini

Siantar Antara Kemegahan Menara, Markas Komando, dan Bayang-Bayang Kriminalitas

Penulis: Mediamasip.com
23 April 2026 | 07:50 WIB

Oleh:  Gr. Gomgom Pantun Margunawan Pakpahan  (Mahasiswa STFT Jakarta) Pematangsiantar sering kali dibanggakan sebagai "Miniatur Indonesia" dan salah satu kota...

Read more
Pendidikan

Inovasi Pelayanan Publik

Penulis: Mediamasip.com
12 April 2026 | 20:56 WIB

EAZY PASSPORT: Kebijakan yang Lahir dari Kegelisahan Rakyat Oleh: Anastasya Febiona Tambunan Sebuah kebijakan yang baik tidak lahir dari ruang...

Read more
Pendidikan

Akselerasi Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pasca-Bencana Melalui Inovasi Pakan Ikan Mandiri Berbasis Buah Campnosperma Auriculatum dan Sekolah Darurat.

Penulis: Mediamasip.com
7 April 2026 | 15:28 WIB

TAPSEL-MEDIAMASIP.COM Dosen dan Mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar (UHKBPNP) melaksanakan Program Pengabdian Masyarakat dan Program Mahasiswa Berdampak Bencana Sumatera 2026...

Read more
Pendidikan

SMP Teladan Pematangsiantar Sekolah Unggulan Pilihan Masyarakat

Penulis: Mediamasip.com
16 Maret 2026 | 21:49 WIB

SIANTAR-MEDIAMASIP.COM Salah satu sekolah lanjutan tingkat pertama yang menjadi pilihan adalah Perguruan Teladan Pematangsiantar dimana di sekolah ini telah menetapkan...

Read more

Discussion about this post

Berita Terkini

Daerah

Bahas Huntap. Bupati Humbahas Ikuti Rakor Bersama Mendagri dan Menteri PKP

21 Juli 2026 | 21:20 WIB
News

‎Pemkab Taput Sampaikan Nota Jawaban Bupati atas Pendapat Bapemperda dan Pemandangan Umum Fraksi-fraksi DPRD

21 Juli 2026 | 21:13 WIB
Daerah

Pemkab Bersama Polres Humbahas Tandatangani NPHD Pilkades Serentak

21 Juli 2026 | 14:34 WIB
News

Tolak Upaya Damai. Keluarga dan Korban KDRT di Pematangsiantar Minta Hukum Ditegakkan Sampai Tuntas

21 Juli 2026 | 14:05 WIB
News

Tim SAR Brimob Polda Sumut Bergerak Cepat, Evakuasi Korban dan Amankan Lokasi Ledakan di Grand Polonia Medan

21 Juli 2026 | 09:00 WIB
News

Tim Hukum Solid! Johanes Silaen & Briliant Togatorop Resmi Dampingi Pemeran Film Horas Amang Yang Jadi Korban KDRT

20 Juli 2026 | 09:21 WIB
Olahraga

Dandim 0207/Simalungun Pimpin Jalan Santai Sehat, Dalam Rangka Event Festival Rakyat Di Kota Pematangsiantar

19 Juli 2026 | 13:37 WIB
News

Advokat Johanes Silaen Kunjungi Vanessha, Korban KDRT Yang Sedang Viral

19 Juli 2026 | 13:32 WIB
Daerah

‎Pemkab Taput Lakukan Penyegaran Birokrasi, Tekankan Kompetensi dan Integritas

18 Juli 2026 | 11:45 WIB
Peristiwa

Terus Mengalami KDRT Artis Pemeran Film Horas Amang Laporkan Suami ke Polisi

18 Juli 2026 | 08:22 WIB
News

Tim Jibom Sat Brimob Polda Sumut, Berhasil Didisposal Granat Asap Militer di Pematang Siantar

17 Juli 2026 | 19:06 WIB
News

Sat Brimob Polda Sumut Gerak Cepat Tangani Kecelakaan Beruntun di Jalur Medan–Berastagi, Evakuasi Korban dan Amankan Arus Lalu Lintas

17 Juli 2026 | 18:35 WIB
  • Redaksi
  • Pedoman
  • Terms
  • Policy

© 2022-2024 Mediamasip.com

RotasiBarakBerita SiantarBerita SimalungunDanau Tobasumber berita

No Result
View All Result
  • News
    • Daerah
    • Nasional
    • Regional
    • Dunia
  • Peristiwa
  • Hukum
  • Opini
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Wisata

© 2022-2024 Mediamasip.com

RotasiBarakBerita SiantarBerita SimalungunDanau Tobasumber berita