MEDAN- MEDIAMASIP
Momen hari Pahlawan 10 November 2015 di Medan Sumatera Utara diwarnai aksi unjuk rasa puluhan ribu massa di kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro, Medan.
Demonstran mendesak Gubernur Sumut Bobby Nasution agar segera menutup operasional atau merekomendasikan pencabutan izin konsesi PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Massa berasal dari berbagai elemen antara lain: para pendeta, pastor, suster, organisasi masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, organisasi mahasiswa. Hadir juga mahasiswa dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi seperti Universitas HKBP Nomensen Medan, Universitas HKBP Nomensen Pematangsiantar, Universitas Katolik Santo Thomas Medan dan sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Turut hadir masyarakat yang menjadi korban penindasan dan kriminalisasi oleh PT TPL dari sejumlah daerah yakni Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Humbahas, Toba, Samosir, Dairi dan Kabupaten Simalungun.

Unjukrasa diawali dengan doa bersama di depan kantor Gubernur dengan yang dibawakan oleh Pastor dan Ustad.
Pimpinan Aksi, Rokki Pasaribu menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah karena selama ini aktivitas PT TPL telah memberikan dampak buruk atas kerusakan alam di wilayah Tapanuli Raya dan tindakan sewenang-wenang TPL terhadap masyarakat di sekitar konsesi TPL.
“Masyarakat diintimidasi! Dikriminalisasi! Tanahnya dirampas! Namun tak ada yang peduli. Apakah itu tujuan TPL hadir di tanah batak? Apakah kita sepakat tutup TPL?,” ujar Rokki dengan tegas, disambut seruan tutup TPL oleh massa aksi.

Menurutnya, kekecewaaan masyarakat semakin memuncak karena sebelumnya Gubernur Sumut Bobby Nasution mengeluarkan pernyataan mendukung operasional PT TPL karena memiliki ijin konsesi.
“Apakah pak Bobby gubernur masyarakat Sumatera Utara? Atau Gubernur TPL? Bapak belum mengetahui persoalan. Belum turun menemui masyarakat yang menjadi korban kekerasan oleh TPL, bapak belum melihat kondisi hutan yang sudah dibabat habis. Namun membuat pernyataan sepihak yang menyakiti perasaan masyarakat. Apakah bapak Gubernur TPL?,” tegasnya.

Selanjutnya dari setiap elemen menyampaikan orasinya secara bergantian. Beberapa jam berorasi, akhirnya Wakil Gubernur Sumut, Surya datang menemui massa unjukrasa.
Pada saat itu, Ketua Umum Sekber Gerakan Oikumenis Keadilan Ekologis Sumatera Utara, Pastor Walden Sitanggang menegaskan bahwa demonstran ingin bertemu langsung dengan Gubernur Sumut, Bobby Nasution.
“Kami ingin menyampaikan secara langsung, apa sebenarnya yang terjadi. Bagaimana perlakuan PT TPL terhadap masyarakat, bagaimana kerusakan alam atas operasional PT TPL,” ujanya.
Sementara Wakil Gubernur, Surya, hanya menyampaikan bahwa Gubernur Sumut tidak bisa hadir karena sedang berada di Istana Negara.
“Aspirasi bapak/ibu, akan saya sampaikan ke pak Gubernur,” sebutnya.
Jawaban tersebut membuat massa spontan bersorak dan merasa tidak puas. Mereka meminta agar Gubernur yang hadir menemui massa. Mengingat kondisi terik matahari, amarah demonstran semakin memuncak sehingga sejumlah mahasiswa mencoba mendesak agar massa diarahkan untuk mendobrak gerbang kantor Gubernur. Namun pimpinan aksi dan Pastor Walden Sitanggang mencoba menenangkan situasi agar massa tidak melakukan tindakan-tindakan anarkis.

Melihat kondisi yang semakin memanas, akhirnya Pj Sekda Propinsi Simatera Utara Sulaiman Harahap berkomunikasi dengan Bobby Nasution dan membuat pernyataan secara tertulis bahwa Gubernur akan mengunjungi lokasi Sihaporas dan menjadwalkan pertemuan dengan Sekber Gerakan Oikumenis Keadilan Ekologis Sumatera Utara. (tohap)
















Discussion about this post