MEDAN-MEDIAMASIP.COM
Lembaga Pelestarian Budaya Tionghoa Yayasan Istana Harta Lima Penjuru (LEMPABUDTI YIHLP) secara resmi melayangkan surat kepada Gubernur Sumatera Utara Bobby Afif Nasution dengan surat tembusan kepada Menteri kebudayan dan Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah Sumut Kemenbud RI, tentang tidak adanya perhatian pemerintah Provinsi terhadap ruang ekspresi kebudayaan Tionghoa yang ada di Sumatera Utara.
Hal ini dibenarkan oleh Pendiri Lempabudti YIHLP Ade Chandra,SH,MM di dampingi Ketua Umum Edy Candra,SH. Dikatakannya pemberitahuan ini dilayangkan mereka kepada pak Gubernur dalam hal tidak adanya perhatian terhadap kebudayaan Tionghoa yang menjadi salah satu etnis yang ada di Sumatera Utara, “Tidak ada satu oknum pejabat baik di bagian kesra dan atau dinas kebudayaan dan pariwisata yang bisa menjawab kenapa tidak adanya perhatian dan dukungan serta mengagendakan ke program kerja tahunan terhadap pelestarian dan kebudayaan Tionghoa , padahal beberapa tahun silam Pemprovsu telah memprogramkan Imlek Fair setiap tahun nya namun 3 tahun belakangan ini hilang begitu aja, kami menduga adanya ketidak kepedulian, tidak berpihak dan tidak adanya persamaan hak serta diskriminasi,”ujarnya kepada awak media disela-sela keluar usai pengantarkan surat dikantor Gubernur Jalan Diponegora Medan, surat Tahun ke-3, Selasa (20/10/2026).
Edi menambahkan bahwa mereka sangat heran perayaan etnis Tionghoa banyak yang terlewatkan,”Kami juga heran kenapa begitu banyak festival kebudayaan , adat istiadat, festival ritual khusus yang begitu banyak di perigati/dirayakan oleh etnis Tionghoa setiap Tahun nya , belum lagi masalah cagar budaya dan Warisan Budya Tak Benda( WBTB) lewat begitu aja dimata Pemprovsu, kami hanya ingin minta pak Gubsu untuk lakukan evaluasi kinerja para staf pak Gubsu dan gelarkan acara perayaan imlek,”ujarnya mengakhiri. (*)













Discussion about this post